BERKELANA; LANGKAH KITA 1:1
Mulai detik ini, aku ingin menuliskan setiap perjalanan, moment, dan masa yang pernah kita lalui bersama. Karena, aku menganggap keberadaan kalian di sisiku adalah sebuah keberhargaan dan keberuntungan yang Allah berikan kepadaku. Mengingat kemampuan mengingat manusia terbatas, Aku ingin menulis detail dari setiap cerita yang kita lalui bersama. Akan sangat disayangkan jika ingatan-ingatan itu memudar terhapus oleh waktu. Karena tulisan tidak akan pernah pudar dan luntur, kelak saat kita tua nanti, aku ingin tulisan-tulisanku menjadi saksi bisu kebersamaan kita.
SAVANA DANDAUN; PENDAKIAN PERTAMA
Perjalanan kali ini merupakan kali pertamaku melakukan pendakian ke salah satu bukit yang terletak di Sembalun. Sebelumnya, tak terfikir olehku untuk berkelana lebih jauh. Yah, paling mentok-mentok cuma pergi ke pantai atau air terjun. Betapa senangnya aku ketika diizinkan oleh kedua orang tuaku untuk mendaki. Padahal susah banget izin ke mereka kalau masalah mendaki. Yah, mungkin karena hanya mendaki ke bukit saja, mereka bisa pertimbangkan itu.
Lagi-lagi, layaknya seperti perangko, Aku pergi muncak dengan teman Fsii angkatanku. Kalau masalah ngetrip mah, sama mereka mulu, heran. Kalau ngumpul juga sama mereka terus. Hingga detik ini suka bingung sama diriku sendiri, rasanya seperti tidak punya teman kuliah, merasa cukup banget dengan mereka bahkan hingga hampir 4 tahun duduk di bangku kuliah. Aneh, padahal udah bertahun-tahun lulus tapi masih aja enggak bisa lepas. Apa benar teman SMA adalah teman seumur hidup?
Pagi-pagi sekali kami berkumpul di rumah salah seorang teman. Kami berjumlah 17 orang. Terbilang banyak untuk satu tim pendakian. Disana Kami berkemas, mempersiapkan dan mengatur peralatan dan logistik kelompok. Hingga benar-benar memastikan semua persiapan telah lengkap, tepat pukul 08.00 motor yang kami kendarai melesat meninggalkan titik kumpul menuju Sembalun melewati KLU, dan membutuhkan waktu kurang lebih 3 setengah jam untuk tiba di sebuah masjid di Sembalun untuk beristirahat dan memberi asupan energi.
Sembalun saat itu mendung, gerimis turun, perlahan hujan membasahi bumi. Mau tidak mau, Kami harus mengenakan jas hujan. Lalu bersiap menuju lokasi pendakian. Lucu sekali, Kami sedikit bingung dan bertanya-tanya "Dimana lokasi titik kumpul untuk pendakian ke Savana Dandaun ini?". Kami terus mutar-mutar hingga akhirnya sampai di sebuah tempat yang terlihat seperti parkiran motor. "Tapi kok enggak ada petugasnya ya?". Terlihat beberapa para pendaki lain yang tujuan sama ikut parkir dengan kami. Yah, kami sih percaya diri saja ya, parkir motor dengan rapi, lalu bersiap-siap hendak berjalan. Lebih lucu lagi, ternyata kami salah tempat! Ya ampun refleks aku menepuk jidat. Alhasil, kami putar balik, dan kembali mencari. Dan benar, kali ini kami tidak salah tempat. Motor-motor berjejer rapi dan nampak tukang parkir yang akan menjaga motor kami. Masih dalam keadaan mengenakan jas hujan, kami pun memulai pendakian.
Berjalan di bawah gerimis dan hujan terasa sedikit lebih berat, karena trek pendakian menjadi lebih licin, jarak pandang juga memendek dikarenakan kabut yang menyelimuti. Keuntungannya, dengan hujan membuat trek menjadi tidak berdebu dan berpasir. Memang, semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Sepanjang perjalanan kami selalu tertawa. Perjalanan tak akan lengkap jika tanpa teman yang suka bergurau dan yang suka tertawa, sereceh apapun gurauan itu. Resikonya kalau tertawa terus membuat napas semakin memburu otomatis membuat langkah terasa lelah. Aku berulang kali mengomel menyuruh jangan membuat tertawa. Tapi, berulang kali juga mereka mengeluarkan jokes konyol mereka. Aduh, bisa-bisa aku awet muda 400 tahun kalau punya teman tipe-tipe gini.
Dengar-dengar estimasi perjalanan untuk sampai ke camping area yaitu sekitar 2 jam. Akan tetapi, butuh waktu 3 jam lebih untuk kami sampai di atas. Bagaimana tidak? Baru saja berjalan 10 meter, kami berhenti, hanya sekadar untuk berhenti sejenak, kemudian jalan lagi, eh berhenti lagi. Kalau enggak minum ya nyemil. Kalau enggak nyemil ya fotoan. Entah sudah berapa jepretan yang diambil hanya untuk di perjalanan saja. Akan tetapi, inti keseruan itu terletak pada moment-moment di perjalanan. Sering aku dengar bahwa tak mengapa jalan perlahan, menyamakan langkah kaki, dan tidak terburu-buru. Toh, puncak juga tetap di tempatnya dan enggak akan kemana-mana. Jika lelah, enggak perlu sungkan untuk mengatakan lelah. Justru sangat membahayakan diri dan tim jika enggak ada yang saling terbuka terhadap apa yang dirasakan. Karena, jika sudah berada di alam, kita menjadi satu kesatuan. Saling merendahkan ego, saling membantu satu sama lain, dan saling menjaga kebersamaan tim.
Aku sungguh menikmati perjalanan kami. Meskipun terbilang pendakian yang pendek, aku sangat bersyukur. Sedikit demi sedikit aku menemukan sosok diriku yang sebelumnya tidak begitu nampak. Memang benar apa kata orang-orang, ketika kita naik gunung atau dalam perjalanan jauh akan terlihat sifat asli seseorang. Dan yang paling penting berkenaan dengan hal tersebut adalah bagaimana kita mengendalikan dan berdamai dengan diri kita sendiri. Sehingga kita bisa benar-benar mengenali diri sendiri dan tau bagaimana harus menyikapinya.
Tim akhir pun sampai di lokasi camping. Gerimis dan kabut masih setia menyelimuti. Nampak dari jauh tim leader sedang membangun tenda, dan beberapa tenda sudah didirikan. Baju kami basah kuyup membuat tubuh semakin terasa dingin. Tetapi, dinginnya suhu enggak membuat kami berhenti beraktivitas. Sebisa mungkin badan dipakai untuk bergerak agar tak terasa dingin. Sempat sedih dan putus asa karena hujan dan kabut kunjung berhenti. Gunung Rinjani yang semestinya nampak gagah di depan menjadi tak terlihat, begitupun dengan bukit-bukit tinggi disekitar kami.
Namun, semua lelah terasa terbayarkan. Perlahan kabut mulai menghilang. Nampak Gunung Rinjani berdiri gagah tepat di hadapan kami. Senangnya bukan kepalang, buru-buru mengambil kamera lalu mengambil beberapa foto bersama. Setelah itu sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sibuk berfoto, ada yang salat, ada yang menyiapkan peralatan masak untuk makan malam, semua orang bersuka ria.
Matahari perlahan tenggelam menggeliat manja di ufuk barat. Menyisakan semburat merah berpadu dengan orange yang merekah indah memanjakan mata. 'Ah, romantisnya suasana seperti ini'. Ditambah menikmatinya bersama teman-teman yang kehadirannya selalu ku syukuri. Kedua mataku menutup dan sudut bibirku tak terasa tertarik membentuk senyum simpul. Hangat.
Tak lupa menunaikan kewajiban, selepas salat magrib, kami segera santap malam. Makan malam kami terasa spesial. Memang benar, menu makanan yang sederhana akan terasa seperti makanan di restoran ternama jika perut dalam keadaan lapar ditambah suhu udara yang semakin menurun.
Malam pun kami habiskan dengan menyeduh teh hangat lalu saling bertukar cerita, pikiran, bermain teka-teki, dan menertawakan lawakan-lawakan receh plus garing. Bahkan hal-hal gak jelas mampu menciptakan tawa diantara kami. Dari sunyinya malam, hanya ada suara tawa yang menyelimuti tenda kami. Sedikit melirik kearah jam, tak terasa jarum jam telah bergeser ke kanan dengan cepat. Malam semakin larut. Jutaan bintang-gemintang bertabur indah di atas langit. Dan manisnya bulan bertengger diantara jutaan bintang itu. Hanya sinarnya yang menerangi gelapnya malam dan kehangatan kami saat itu.
Keesokan harinya kami terbangun pukul 04.00 sebelum subuh. Beberapa menunaikan salat tahajjud, selepas itu menunggu sejenak untuk berjamaah salat subuh. Sembari menunggu sunrise, ada ritual nyemil-nyemil sedikit untuk mengganjal perut lapar kami. Ah, sedih sekali, sunrise tak terlihat saat itu, kabut tak kunjung hilang. Tetapi tak mengapa, bagi kami hal itu tak menghalangi kami untuk berswafoto. Maklum, zaman sekarang foto itu merupakan sebuah kebutuhan, hehe.
Semua pada sibuk berfoto, aku sibuk membantu menyiapkan makanan. Makanan pun siap, semua membentuk formasi bersiap untuk menyantapnya. Menit berlalu, makanan bersih tak bersisa. Sedikit melirik ke jam tangan, jarum jam menunjukkan pukul 09.00. Raut wajahku sekita berubah. Sudah waktunya untuk berkemas batinku. Huft, waktu berlalu cepat sekali.
Kami pun sibuk mengemasi barang-barang kami. Setelah semua siap, tripod sudah didirikan. Tak lupa kami mengambil foto bersama untuk terakhir kalinya dengan latar belakang bukit yang tinggi nan megah. Tak banyak berfoto karena mengingat waktu, hanya dua foto tetapi akan begitu bersejarah dan membekas di hati.
Pukul 10.00 kami melangkah perlahan meninggalkan camping area kami. Dipastikan tak meninggalkan sampah sekecil dan sedikit apapun. Karena sejauh yang ku baca. Janganlah meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali gambar, dan jangan membunuh sesuatu selain waktu. Itu yang selalu aku tanamkan kemanapun kaki ini melangkah.
Ternyata, perjalanan turun lebih cepat dari dugaanku. Kami tiba di sebuah masjid untuk membersihkan diri dan menunaikan salat. Ketika hendak bersiap pulang, gerimis perlahan menurun membasahi bumi. Buru-buru kami mengenakan jas hujan. Lalu melesat meninggalkan masjid.
Banyak pelajaran dan pengalaman yang dapat aku ambil dari perjalanan kali ini. Pertama, aku dapat mengenali diriku yang sebenarnya, aku dapat mengenali egoku dan berusaha untuk mengelolanya. Aku menyadari bahwa ego itu tetap ada dalam diri seseorang. Ego itu banyak macamnya, tidak semua ego mengarah pada keburukan dan kejelekan. Jika ego di kelola dengan baik, ia akan membawa hal baik bagi diri seseorang dan orang di sekitarnya.
Kedua, aku sadar akan indahnya kebersamaan, saling menjaga, melindungi dan saling menyayangi. Akan terlihat sifat asli dari mereka. Karena mungkin tidak semua orang bisa dengan mudah mengekspresikan rasa sayangnya, rasa pedulinya, dan perhatiannya kepada orang terdekat bahkan orang sekitarnya layaknya keluarga. Dari perjalanan jauh ini, bahkan untuk diriku sendiri, semua rasa itu dapat aku ekspresikan dengan apa adanya diriku tanpa ragu. Aku bahagia, dapat menemukan sosok positif diriku yang lain. Dan mungkin teman lainnya juga merasakan hal yang sama.
Ketiga, aku menyadari bawa belajar tidak harus duduk dibangku sekolah atau instansi. Belajar dapat dilakukan dimana saja. Sumber belajar dapat di dapatkan darimana saja. Salah satunya gunung. Melihat langsung realitanya dari yang sering dibaca dalam buku. Belajar juga bukan hanya teori saja, dengan mendaki gunung, secara tidak langsung diri kita sejatinya berkembang, karena dapat memetik hal-hal baik yang dapat dijadikan bahan refleksi dan pelajaran seumur hidup.
And yeah, it's over! I finally completed my first journal trip. Please wait for my second trip to Savana Propok<3
23-24 Januari 2021
Komentar
Posting Komentar