UNTIL WE MEET AGAIN: BEST DAY EVER
Bukit Lembah Gedong 2200 MDPL
“Ah, sayang sekali kamu tidak ikut, Fara.” Ujar salah satu Bang Fadli yang baru aku kenal semenjak rapat pertama terkait persiapan mendaki sekitar sebulan yang lalu.
“Hehe, iya Bang, sayang sekali. Apalagi perjalanan jadi tidak seru kalau tidak ada Aku Bang.” Celetukku yang suka sekali kepedean.
“Hahaha.” Semua orang tertawa.
Diskusi berakhir, semua orang kembali ke rumahnya masing-masing. Sejauh yang aku dengar, persiapan mereka sudah sekitar 50% untuk pendakian besar pertengahan bulan Agustus besok. Bagaimana tidak besar? Ada sekitar 30 orang yang akan berangkat besok. Jadi, segala persiapan, baik fisik, mental, logistik, peralatan naik, barang-barang emergency harus disiapkan sebaik dan selengkap mungkin selama 5 hari disana.
Kami tidur lebih cepat. Alarm sudah terpasang agar tidak rebutan kamar mandi dengan teman yang lain. Keesokan harinya, kami bangun dan sibuk bersiap-siap menyiapkan keperluan pribadi seperti snack dan kelompok seperti nasi bungkus sebagai bekal dua kali makan selama di perjalanan, sarapan dan makan siang yang sebelumnya sudah dipesan akan diambil oleh salah seorang temanku.
Tetapi, semua tidak berjalan sesuai ekspetasi. Ngaret adalah hal yang sudah lazim di kalangan masyarakat. Berawal ingin berangkat pukul enam menjadi pukul tujuh Wita. Lagi-lagi bukan ke-riweuhan ceweknya yang bikin ngaret, tetapi nunggu anak-anak cowoknya. Beh, kalah-kalah cewek dandan.
Semua perlengkapan sudah siap, anggota pun sudah siap dan lengkap dengan pasangan boncengannya. Karena perjalanan jauh dan udara saat itu sangat dingin, mau tidak mau kami harus boncengan cewek dan cowok. Ada sekitar 18 orang yang akan mengikuti pendakian ini. Motor demi motor pun melesat meninggalkan rumah Wulan menuju Sembalun.
Setelah dua jam lamanya di perjalanan, sampailah kami di rest area Suela pukul sembilan Wita. Disana kami mengisi kekosongan perut kami yang sedari tadi subuh sudah meronta pengin diisi. Menu kali ini adalah nasi kuning lengkap dengan sambalnya. Untuk porsi sarapan pagiku sih, ini terbilang banyak, kurang lengkap juga kalau makan tanpa sambal, mau tidak mau aku harus memakannya.
Kami makan dengan hikmat. Hanya gelak tawa kami yang terdengar. Sesekali dua kali menertawakan salah seorang teman kami yang entah sebesar apa lambungnya mampu menampung sisa nasi yang tidak habis. Tidak lupa menggunakan ‘sharescreen’ kata Jaddid, eh sunscreen maksudnya. Agar tidak terbakar terkena paparan sinar UV. Seperti biasa sunscreen Atis jadi korbannya, satu RT menggunakannya.
"Halah, lebay." Temanku merespon ucapanku yang memang lebay itu.
“Mana mahal lagi.” Celetuk Atis sambil bergurau. Semua tertawa.
Setelah semua siap, perut sudah terisi. Kami meninggalkan rest are menuju lokasi untuk mengejar waktu. Pukul 09.25 kami tiba di parking area. Masih sepi disana, baru rombongan kami yang datang. Masing-masing dari kami harus membayar dua puluh ribu, sudah termasuk bayar parkirnya. Setelah semua beres, kami berdoa yang dipimpin oleh Adam sebelum berjalan melakukan pendakian. Pendakian pun dimulai pukul 09.35.
Sudah 30 menit perjalanan, perutku terasa sakit, terkadang mual, dadaku terasa terbakar. Sepertinya efek baru makan dengan porsi banyak ditambah sambal yang menimbulkan sensasi terbakar. Beruntung Vivi membawa madu sachet yang membantu meredakan mual ini. Bukan hanya itu, karena sudah lama tidak berjalan jauh, kepalaku pening, telingaku mendengung, ditambah napas yang menderu membuat langkahku sering terhenti untuk memasok oksigen sebentar. Salah dari awal, aku yang terlalu terburu jalan cepat dan ambil langkah besar. Padahal mah, tidak ada yang mau dikejar. Karena puncak masih di tempatnya, ngapain terburu ya, hadeh.
Kami tiba di pos I, di sana kami berfoto ria. Tidak lupa juga untuk foto bersama. Ada saja hal yang membuat kami tertawa terbahak-bahak selama di perjalanan. Jaddid dengan lawakan dan tingkah konyolnya, begitupun Hendra dan Zaka. Aku dan Atis masih setia dengan tim belakang dari pendakian pertama. Tim belakang serunya tidak ada obat. Karena bukan puncak yang kami cari tetapi keseruan di setiap langkah kecil kami.
Untuk menuju ke pos II Kami melewati gerbang Ratu, dengan latar belakang hamparan bukit yang begitu indah terlihat sangat jelas memukau mata. Setelahnya, Kami harus melewati tanjakan-tanjakan dengan nama yang lucu, yaitu tanjakan kijang kemudian tanjakan monyet. Dan benar saja di tanjakan monyet, kami selalu dikejutkan dengan banyaknya monyet-monyet yang mengikuti dan memantau kami. Pada tanjakan ini kami tim belakang tak bisa berhenti tertawa, ada saja hal konyol yang membuat kami tertawa terpingkal hanya perkara Jaddid atau Hendra yang berpura-pura dikejar monyet. Ditambah Atis yang selalu tidak kuat menahan kencing kalau tertawa. Lengkap sudah keseruan ini.
“Eh, sepertinya kita sudah sampai di tanjakan lebah deh.” Ujar salah satu temanku.
“Ah iya? Perasaan gak ada tulisannya tadi.” Tanyaku penarasan.
“Ini kan banyak lebah, berarti kita sudah di tanjakan lebah.” Ucap temanku sambal menunjuk lebah-lebah yang beterbangan di sekitar kita. Semua tertawa.
“Eh iya bener juga. Ini juga ada satu lebah nyangkut.” Leluconku sambil menunjuk gambar lebah yang ada di bungkus madu sachet yang sisa setengah aku habiskan.
“Hahahaha, lucu juga kamu Fara.” Semua orang tertawa terpingkal. Padahal itu bukan gambar lebah, tapi tawon.
Semakin lama pendakian, semakin terpisah rombongan kami. Seperti biasa tim belakang dengan orang yang sama tidak pernah kehabisan leluconnya. Sesekali istirahat untuk mengambil napas. Lalu berjalan perlahan sambil mengatur ritme langkah dan dengan pengaturan napas agar tidak cepat kelelahan.
Dari pos dua menuju pelawangan Lembah Gedong cukup panjang dan lama. Kami harus berjalan menanjak sepanjang tadi, belum ditemukan adanya turunan. Sesekali landai, menjadi kenikmatan bagi para pendaki.
Sisa satu pijakan lagi aku sampai di pelawangan. Terpampang jelas tulisan pelawangan Lembah Gedong 2040 MDPL. Aku dibuat takjub dengan keindahan ini. Hamparan lautan awan jelas ada di depan mata. Di tambah bukit-bukit yang menjulang tinggi dengan gagahnya berjejer mengelilingi bukit-bukit lainnya. Perlahan kabut datang menutupi pelawangan. Tetapi itu tidak menghalangi kami untuk mengambil beberapa foto dan video mengabadikan keindahan ini.
Waktu menunjukkan pukul tiga belas. Puncak Lembah Gedong bukan disini, akan tetapi masih jauh di atas sana, sebuah bukit di depan mata yang lebih tinggi lagi. Karena sudah memasuki waktu solat Zuhur, anak-anak cowok mendirikan solat di Pelawangan sedangkan yang cewek akan berjalan menuju ke tempat yang lebih atas agar solatnya terpisah dengan yang cowok.
Tibalah kami di hamparan tanah yang tidak begitu luas tetapi dapat digunakan untuk solat. Kami pun solat dengan hikmat. Tidak lupa meminta tolong salah seorang teman kami untuk menjaga kami selama solat agar para lelaki tidak dulu naik sebelum kami selesai. Agar tidak kesiangan, kami segera melanjutkan naik menuju puncak Lembah Gedong.
Sepanjang perjalanan menuju puncak, tidak habis aku mengucapkan kalimat indah Allah. Sungguh keindahan luar biasa yang pernah aku lihat. Bukit dengan kegagahan berdiri di depan sana. Hamparan pepohonan, kabut, hamparan lautan awan sungguh memukau mata.
“Ini saja indah banget, apalagi Gunung Rinjani ya.” Bisikku pelan kepada diriku sendiri.
Teman-temanku sudah jauh berjalan di depan sana. Aku masih di belakang sibuk mengabadikan keindahan yang luar biasa ini. Jika ada kompetisi pengambil video terbanyak, mungkin akulah pemenangnya. Berkali-kali take dari angel manapun harus masuk ke dalam frame.
Aku tertinggal jauh di belakang. Menyisakan beberapa temanku di belakang yang terlihat kelelahan tidak mampu untuk naik lagi. Memang benar, daritadi kami di prank dengan plang yang tertempel di pohon. Kami kira itu adalah puncaknya, ternyata bukan. Kesal banget. Napas kami tersenggal. Puncak sana terlihat dekat akan tetapi lama sekali kami sampai. Membuat dua orang teman kami Wulan memutuskan untuk tidak naik lagi dan ditemani oleh Novan agar tidak sendiri.
Tibalah Aku di puncak Lembah Gedong pukul empat belas. Ternyata lama juga dari pelawangan menuju puncak. Terlihat teman-teman yang lain sudah beristirahat, bercanda tawa, dan berfoto ria. Ada ayunan disana. Semua menikmati keindahan puncak yang masih tertutup kabut.
Karena semua tim sudah lengkap dan sedari tadi suara perut sudah meronta minta diisi, kami segera menyantap makan siang dengan menu yang sama seperti sarapan, nasi kuning. Aku makan berdua dengan Atis karena takut tidak habis. Begitu juga dengan teman cewek lainnya yang satu bungkus berdua. Wah, ini sih kenikmatan lain untuk anak cowok, mereka bisa makan double bahkan triple.
Bukan hanya triple, bahkan quadruple. Empat kali makan. Sisa makan anak cewek yang tidak habis pun disantap habis tak bersisa.
“Ini laper atau doyan yak.” Ujar Atis sedikit mengejek.
"Biasa Tis, doyan." Sahutku santai. Mereka tahu Aku bercanda.
Selesai makan, Hisyam mengeluarkan senjatanya. Snack! Semua kegirangan melihat snack-snack itu apalagi yang cowok. Kami menikmati suasana disana dengan canda tawa. Kabut perlahan menghilang dan tidak kalah indah pemandangannya. Bukit berjejer di depan sana mengelilingi hamparan dataran rumah dan persawahan di bawahnya. Lautan awan membuatnya semakin indah. Sungguh, Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi saking terkesimanya. Sebelum kabut datang lagi, kami segera mengambil foto, video, dan tidak lupa timelapse untuk melihat pergerakan awan.
Ada beberapa pendaki lain di puncak. Tidak lupa kami meminta tolong pendaki lain tersebut untuk mengambil foto kami bersama. Alangkah terkejutnya kami ketika melihat kabut yang menutupi kemegahan Gunung Rinjani perlahan terbuka. Begitu dekat dan jelas tertambat di sebelah kanan kami. Kami dibuat kagum olehnya. Gunung Rinjani khas dengan puncaknya yang tidak utuh akibat letusan dasyat Gunung Samalas (Nama Gunung Rinjani dahulu) tahun 1257 M. Sehingga sekarang disebut Gunung Rinjani dengan kawah yang membentang di tengahnya atau yang sering disebut Danau Segara Anak. Di tengah Danau terdapat Gunung Baru atau Anak Gunung Baru Jari.
Puas menikmati selama di puncak, tepat pukul lima belas kami sudah harus meninggalkan puncak agar tidak kemaleman sampai bawah. Sampah sudah dijadikan satu dalam tas kantong besar. Bagi seorang pendaki yang mengaku cinta alam, harus membawa pulang sampahnya. Tidak etis seorang pendaki meninggalkan sampah sembarangan di alam yang sudah terjaga ini. Apa yang kita lakukan ke alam, itulah yang akan alam berikan kepada kita.
Perjalanan turun tidak begitu memberatkan kami. Tidak juga membutuhkan waktu yang lama, selama perjalanan naik. Tetapi yang membuat sedikit berat adalah kaki kami harus bersiap terus menapak terus pada tanah. Tidak sering kaki kami cedera atau tergelincir apabila salah napak kaki atau terlalu keras menapak.
Gunung Rinjani tampak jelas di belakang kami. Kami menyempatkan berhenti sejenak untuk mengambil foto dan video berlatar belakang Gunung Rinjani. Hamparan bukitnya sangat indah, hijau, asri, seperti surge dunia, sungguh memanjakan mata. Jika boleh berlama-lama aku ingin melakukannya. Karena dengan melihat sisi lain keindahan Tuhan dapat membantu menghilangkan dan menyembukan luka-luka hati yang tak dapat sembuh meski dengan bantuan dokter sekalipun.
Perlahan-lahan kami turun daripada tergelincir karena kontur tanah saat itu berpasir dan berdebu, kami mudah terpeleset. Perjalanan turun tak kalah seru. Kami ramai berjalan berdampingan, membicarakan hal-hal random, menertawakan pendaki lain yang sangat niat membawa salon sebesar gaban ke gunung, meniru gaya konyol Jaddid yang sedang mengimprovisasi mengapa bisa ada acara nikahan di Gunung (Kecimol: dalam Bahasa Sasak), menghebohkan Atis dengan segala kejailannya dari setiap kata yang terlontar dari mulut kami selalu dikaitkan dengan realita kehidupan dan romantisme, juga menghebohkan Aku dengan kata-kata bijak yang spontan keluar berlagak puitis mengikuti gaya Fiersa Besari. Sesekali membahas hal yang berbobot bagi mahasiswa tingkat akhir ini yaitu skripsi.
Seru sekali perjalanan turun saat itu. Banyak kami temukan pendaki lain yang baru naik di sepanjang jalan. Padahal sudah jam setengah lima sore, akan sampai jam berapa mereka di puncak kalau bukan menjelang magrib. Tak lupa ritual para pendaki setiap berpapasan dengan pendaki lain, saling memberi sapa dan semangat meskipun tidak dikenal.
“Semangat Mbak, semangat Bang, puncak masih lima menit lagi kok.” Gurauku. Meskipun bukan lima menit. Yah, itu sebagai bentuk penyemangat saja meskipun mereka tau lima menit itu bohong atau puncak tinggal belok kiri aja itu bohong.
“Iya Mbak, semangat juga turunnya.” Balas mereka sambil tersenyum.
Pukul setengah enam kami masih berada di dalam hutan. Matahari semakin tenggelam di ufuk barat. Menyisakan sisa-sisa semburat cahaya yang menerangi jalan kami. Kami sudah melewati pos penantian dan tanjakan monyet, sisa tanjakan kijang dan masuk sekali lagi ke dalam hutan baru bisa sampai di parking area.
Tak terhitung berapa kali aku terpeleset dan tergelincir diikuti dengan suara gelak tawa mereka, ditambah lelucon konyol yang selalu mengalir begitu saja, dapat memecah keheningan dan ketegangan di tengah hutan yang semakin gelap. Tak peduli bagaimana kondisi muka atau image kami yang semestinya kami jaga, bersama mereka kami bisa menjadi diri kami sendiri. Aku tak perlu menjadi orang lain agar disegani dan disukai, Aku lebih suka apa adanya diriku saat ini.
Sesekali berhenti sejenak untuk minum dan mengistirahatkan kaki. Sudah tidak terlihat lagi pendaki yang naik. Terakhir bertemu dengan pendaki cowok yang seorang diri berjalan di tengah remangnya hutan.
“Berani sekali dia jam segini masih disini, jalan sendiri, gelap lagi.” Ucapku.
“Aku juga pernah, Far. Jalan sendiri di tengah hutan tapi di siang hari.” Celetuk Jaddid.
“Oh ya? Kapan?” Tanyaku penasaran. Emang apa urgensinya seorang Jaddid jalan di tengah hutan, sendirian pula. Apa tidak takut ada apa-apa yang tak terduga gitu.
“Waktu turun Gunung Rinjani. Dari pos II turun sendiri untuk mencari sinyal, karena ada jam kuliah. Aku turun sambil berlari melewati hutan. Takutnya bukan karena apa, tetapi takut ada apa-apa, seperti hewan buas gitu.” Cerita Jaddid antusias.
“Kalau Aku sih mikirnya udah kemana-mana tuh.” Ujar ku sambil tertawa.
Pukul enam lebih sepuluh menit kami sudah sampai di hutan terakhir. Cahaya matahari sudah tak terlihat, menyisakan cahaya rembulan yang tersipu malu menyinari hutan. Suara alam mulai terdengar, suara burung yang berterbangan, suara khas serangga, suara monyet yang terkadang mengagetkan kami.
Suasana lengang. Sedikit lagi kami sampai, demi memecah keheningan dan penutup dari perjalanan kami bernyanyi. Dari lagu Tulus, Fabio, Yura Yunita, hingga lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh Jaddid dan Atis sebagai dirijennya cukup menghibur kami semua.
Sempat bingung melihat ada tangga di dalam hutan.
“Perasaan tadi gak lewat sini deh.” Ucap salah seorang temanku.
“Eh iya juga, tadi kita gak lewat sini.” Ucap Jaddid semakin menakut-nakuti kami lalu tertawa melihat ekspresi kami yang ketakutan.
Tiba-tiba kami melihat seberkas cahaya, sudah saja kami kegirangan karena mengira itu cahaya lampu motor. Tetapi kami salah, yang datang adalah salah seorang teman kami, Hisyam. Dia berjalan sendiri menyusul kami yang tertinggal di belakang sambil menyalakan flash handphone.
“Kuat sekali Hisyam jalan balik untuk jemput dan mengarahkan kami pulang gelap-gelap gini.” Ujar Jaddid. Kami semua juga dibuat terkesima dengan keberanian Hisyam. Padahal Hisyam pertama kali bergabung dan melakukan pendakian bersama kami. Dia cepat bergaul dengan kami, bahkan menceritakan banyak hal tentang dia.
Setelah melewati satu kali turunan yang dulunya tempat aliran sungai kini sudah mengering, menyisakan bebatuan dan patahan ranting disana. Akhirnya kami tiba di tempat parkir. Lega sudah. Semua terkapar lelah di pelataran. Betis-betis kami bergetar. Hal yang wajar jika perjalanan turun karena kaki berjam-jam menapak tanah.
Salah seorang teman kami bernama Ami yang baru juga mengikuti pendakian sangat girang sekali, dia bangga karena tak menyangka berhasil mengikuti pendakian pertamanya. Entah dia akan kapok atau ketagihan lagi untuk mendaki, semoga saja tidak kapok.
Di dekat berugak sudah tersulut api unggun yang dinyalakan oleh bapak-bapak dan pemuda yang menjaga parkir. Cukup menghangatkan tubuh kami yang sudah menggigil kedinginan ini. Sembari ditemani oleh kopi dan snack, kami beristirahat sambil berbincang dengan penjaga parkir. Hangat sekali.
Anak-anak cowok bersiap-siap menunaikan solat Magrib. Sedangkan kami para cewek memutuskan solat Magrib yang dijamak dengan isya di masjid saja. Karena kalau disini sedikit repot bagi kami.
Perjalanan masih harus dilanjutkan. Kami semua bergegas mengurus keperluan pribadi, menggunakan jaket yang ikutan dingin setelah tersimpan lama di dalam jok motor, dan sibuk mencari teman boncengan seperti awal berangkat. Setelah semua siap di motor masing-masing, kami berpamitan dengan penjaga parkir, dan tak lupa berterima kasih atas jamuan dan hangatnya api unggun.
Jalanan gelap, tak ada lampu sekalipun. Hanya lampu motor dengan jarak pandang dua meter menerangi jalan kami. Dengan bantuan rambu lalu lintas seperti belokan, tanjakan, turunan, jalan berliku membantu kami menuju kota. Udara sangat dingin menusuk kulit. Jari-jariku kelu, begitupun dengan Hendra.
Sesampai di masjid, bertepatan dengan masuknya waktu solat Isya, kami sibuk bersih-bersih lalu menunaikan solat. Beberapa mengganti pakaian bersih ditambah wajah-wajah segar yang tak sekucel tadi, membuat kami semangat untuk mencari makan. Sempat bingung ingin makan bakso atau lalapan. Sepertinya kami harus melaksanakan konferensi meja bundar. Tapi tidak jadi, karena keputusan jatuh pada lalapan.
Tepat pukul setengah Sembilan malam motor kami melesat meninggalkan masjid menuju tempat makan yang dimaksud. Jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid. Sayangnya hanya tersisa sebelas porsi, tiga porsi untuk ikan nila dan sisanya ayam. Sebagian para lelaki tidak makan, hanya memesan teh hangat. Entah mengalah kepada para cewek atau memang kenyang karena sudah makan empat bungkus nasi dan menghabiskan banyak cemilan.
Kami makan dengan hikmat. Perutku butuh diisi daritadi. Lalapan disini lezat, ayamnya juga besar untuk minumnya aku pesan air mineral saja. Tak terasa waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh. Sudah sejam kami makan dan berbincang-bincang. Perjalanan masih jauh, sudah saatnya harus pulang ke Mataram.
“Fara, kira-kira kita sampai Mataram pukul sebelas malam, apa tidak masalah bagimu?” Tanya Hendra partner boncenganku.
“Perlu nyiapin mental aja sih, kalau semisal dimarah.” Jawabku sambil bergurau.
Semakin lama di jalan, kami terpisah satu sama lain, ada yang sudah jauh di depan, ada yang masih jauh tertinggal di belakang. Jalanan semakin sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Udara semakin dingin, Hendra sudah menggigil katanya. Sesekali kami berhenti untuk sekedar peregangan. Untuk menghalau rasa kantuk Aku mengajak Hendra ngobrol. Bayangkan saja jika Pak pengendara satu ini mengantuk, yang ada dalam bahaya kami berdua.
Akhirnya kami tiba di rumah Wulan tepat jam sebelas malam. Benar kata Hendra tadi. Beberapa teman kami sudah sampai, berkumpul di depan gerbang menunggu teman yang lain datang. Satu persatu motor berdatangan. Hingga tak ada yang tersisa lagi. Kami saling meminjam motor teman satu sama lain. Sekarang kami kembali ke motor masing-masing. Lalu bersiap-siap segera untuk pulang ke rumah.
“Guys, makasi ya untuk hari ini.” Kami saling mengucapkan terima kasih atas perjalanan hari ini.
“Iya, makasi semua. Sampai bertemu dilain hari.” Ujarku sembari tersenyum.
“Hen, makasi juga ya atas hari ini.” Menoleh ke arah Hendra yang bersedia direpotkan olehku.
“Iya, sama-sama, Far. Makasi juga ya.” Jawabnya sambil tersenyum balik.
Akhirnya motor yang awalnya ramai menjadi lengang. Satu
persatu pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat dan siap menerima
omelan orang tua karena pulang sangat larut.
-----
Aku tak tau mengapa hanya bertemu dengan kalian, bersenda gurau, melakukan hal-hal konyol begitu menyenangkan. Perjalanan kali ini begitu membekas, menghabiskan waktu seharian penuh bersama kalian, menjelajahi setiap sudut keindahan pulau ini, dan berjalan beriringan saling menggenggam adalah kenangan terindah yang pernah ada.
Mungkin dari kami ada yang tidak beruntung dalam hal percintaan, karier, pekerjaan atau bahkan dalam hal keharmonisan dalam keluarga. Tetapi, sudah dipastikan, Aku begitu juga kalian beruntung dalam hal pertemanan dan persahabatan. Aku tak pernah menyalahkan takdir telah dipertemukan oleh kalian. Bertemu dengan kalian barang sejenak banyak membantu meluapkan kesedihan yang tengah dirasakan pemilik-pemiliknya.
Waktu bersama kalian begitu berharga. Separuh perjalanan hidupku ada kalian di dalamnya. Begitu juga Aku, Aku melihat kalian bertumbuh dan berkembang meski tidak seluruhnya. Akan menyaksikan satu persatu dari kalian ditambat oleh pujaan hati kalian. Menikah, lalu mempunyai anak. Entah sampai kapan persahabatan kita. Semoga akan selamanya.
Benar, jika bukan dengan kalian Aku tak tahu setiap sudut pulau ini. Terima kasih telah menaburkan warna-warni dalam hidupku. Aku menyayangi kalian, selalu.
Selesai
30 Juli 2022.
Komentar
Posting Komentar